Warga Desa Kebonadem, Menyulap Pelepah Pisang Jadi Camilan Kripik Lezat

Kebonadem.desa.id - Di masa pandemi Covid -9 ini, tak menyurutkan warga untuk berkreasi dan berinovasi. Seperti yang dilakukan salah satu warga  Dukuh kradenan Rt.02 Rw.04  Desa Kebonadem Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Munawaroh (42), dibantu anak dan Suaminya Ngadiyono (perangkat desa kebonadem)   mampu menyulap bahan "sampah" pelepah pisang (gedebok) menjadi sebuah makan atau camilan nan lezat dan tak berbahaya untuk dikonsumsi.

Ada-ada saja kreasinya yang hampir semuanya sukses bikin publik melongo.

Kok bisa ya? kalimat ini yang kerap meluncur dari publik ketika disebutkan atau melihat kuliner unik hasil kreativitas pemilik usaha " "DHEA SNACK" tersebut. Pasalnya bahan yang digunakan aman dan sehat namun sangat tidak lazim dan tak pernah terlintas sedikitpun di kepala.

Termasuk untuk bahan baku keripik satu ini, pelepah pisang. Ya keripik pelepah pisang ini benar-benar dibuat dari pelepah pisang yang umumnya hanya teronggok di tumpukan sampah atau cuma dijadikan alat permaianan anak-anak.

Sejak tiga bulan yang lalu, saat pandemi Covid-19 saat pandemi mulai melanda dunia dan seluruh kegiatan dihentikan,  . Saat itulah Munawaroh  mulai menyulap  pelepah pisang, yang semula tidak berguna, diolah menjadi makanan yang lezat, yang ia beri nama  "Dhebok Crispy".
 

Tapi di tangannya, pelepah pisang dibuat keripik yang gurih bertekstur serat mudah patah. Digigitpun, langsung terasa renyah kremes. Kendati untuk menciptakannya perlunya perjuangan cukup lama.

“Untuk ide awal ya sekedar coba-coba tapi sering gagal, tidak berhasil-berhasil. Bahkan sempat menyerah karena belum bisa menaklukkan seratnya yang super ulet,” kata dia, Selasa (9/11/2020).

Selanjutnya, berusaha memproduksi lagi dan sempat berhasil. Tapi karena proses pengolahan dari bahan mentah ke bahan baku sangat ribet apalagi bergelut dengan getah yang bikin tangan gatal, akhirnya sempat terhenti.
“Kemarin kebetulan ada semangat untuk produksi lagi, Alhamdulillah berhasil,” terang dia.

Menurut dia, proses produksi dari bahan mentah ke bahan baku membutuhkan waktu lama , lantaran perlu waktu agar getahnya benar-benar hilang, baru bisa diolah menjadi keripik. Kemudian baru dilapisi dengan tepung kripik, lalu digoreng. Bahan baku yang dipakai murni lokal dan tidak menggunakan bahan pengawet. Dia mengandalkan teknik memasak bahan baku 

“Varian rasa untuk sementara original gurih renyah. dan varian rasa  bumbu tabur lainnya ” beber dia.

Harga konsumen, adalah Rp 120 ribu perkilogram. Tersedia kemasan 100 gram, 250 gram, 500 gram, dan 1 kilogram. Untuk reseller disediakan harga khusus.

Pemasaran tetap secara online. Tapi konsumen yangg datang ke workshop secara offline tetap dilayani.

"Untuk pemasaranya kita baru melalui online. Alhamdulillah sudah sampai , Semarang dan lokal Kendal ," tutur Munawaroh
Saat ini dirinya sedang mengurus izin Produksi Pangan - Industri Rumah Tangga (P-IRT) dari dinas terkait. 
"Setelah izin Produksi Pangan - Industri Rumah Tangga (P-IRT) keluar, nanti akan kami kembangkan ke toko dan swalayan." kata Munawaroh.#Aa.NO
 
 
 
 

*

*

*


Dipost : 2020-11-24 02:02:47 | Dilihat : 612